
Berdasarkan hasil tracer study, diperoleh sebanyak 71 lulusan memiliki waktu tunggu kurang dari 3 bulan, 23 lulusan memperoleh pekerjaan dalam rentang 3 sampai 6 bulan, dan 8 lulusan memiliki waktu tunggu lebih dari 6 bulan. Dengan demikian, mayoritas lulusan memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari 3 bulan setelah lulus.
Hasil distribusi data menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan berada pada kategori WT < 3 bulan dengan persentase sebesar 69,61% dari total 102 lulusan terlacak. Sementara itu, lulusan dengan waktu tunggu 3 ≤ WT ≤ 6 bulan sebesar 22,55%, dan lulusan dengan waktu tunggu lebih dari 6 bulan hanya sebesar 7,84%. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum lulusan mampu memperoleh pekerjaan dalam waktu yang relatif cepat setelah menyelesaikan studi. Nilai rata-rata waktu tunggu yang dihasilkan yaitu sebesar 2,8 bulan.
Berdasarkan distribusi data tersebut, dapat dianalisis bahwa lulusan memiliki tingkat daya saing yang baik dalam memasuki dunia kerja. Dominasi kategori waktu tunggu kurang dari 3 bulan menunjukkan bahwa kompetensi lulusan dinilai relevan dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Selain itu, proporsi lulusan dengan waktu tunggu lebih dari 6 bulan relatif kecil dibandingkan kategori lainnya, sehingga menggambarkan bahwa sebagian besar lulusan dapat terserap ke dunia kerja dalam waktu yang cukup singkat.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap baiknya waktu tunggu lulusan antara lain penguatan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri, peningkatan kegiatan praktik kerja lapangan (PKL), serta pembekalan soft skills seperti komunikasi, kesiapan kerja, dan pelatihan wawancara. Selain itu, peran pusat karier dan jaringan alumni dalam memberikan informasi lowongan pekerjaan turut membantu mempercepat proses transisi lulusan ke dunia kerja.



